Minggu, 19 Februari 2012

0 cerite rakyat Belitung

Cerita mistis Antu Berasuk di Belitung

Pelanduk atau Kancil ilmiahnya Tragulus javanicus adalah hewan menyusui mamalia sebangsa kijang yang kecil tubuhnya. Pelanduk adalah spesies rusa berkuku genap dari keluarga Tragulidae. Pada ukuran dewasa ukurannya sama dengan kelinci. Pelanduk berhabitat di hutan hujan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jika dicapkan dalam logat Bahasa Melayu Belitong menjadi “Pelandok”.
Antu Berasuk – diucapkan dalam logat bahasa Melayu Belitung – adalah sosok hantu yang berburu Kancil atau Pelanduk dan Kijang di hutan, sosok hantu ini juga memiliki anjing yang dipergunakan untuk membantunya dalam menangkap hewan-hewan tersebut. Cerita ini ada di Belitung dan telah menjadi cerita yang benar-benar dimasukkan kedalam jiwa bagi para pemburu pelanduk dan kancil. Ada kemungkinan juga di daerah anda juga ada cerita yang mirip-mirip seperti cerita yang saya posting ini.
Konon cerita asalnya Antu Berasuk ini adalah seorang manusia juga seperti kebanyakan manusia normal lainnya. Namun sesuatu dan lain hal sepertinya telah mengubahnya menjadi sosok hantu.
Suatu ketika saat hantu ini masih menjadi sosok manusia, dia memiliki seorang istri yang sedang hamil. Dan tentu saja saat sedang menjalani kehamilan, sang istri dari pria itupun mengidam. Disinilah miskomuniskasi antara suami dan istri dimulai. Sang istri yang sedang mengidam, menceritakan keingginannya pada sang suami bahwa dia menginginkan (ngidam) pelanduk bunting laki. Maksudnya disini adalah istri meminta suaminya untuk berburu pelanduk betina yang sedang mengandung anak jantan. Namun ternyata yang dipersepsikan oleh sang suami adalah pelanduk jantan yang sedang mengandung.
Karena telah tahu bahwa keinginan mengidam setiap wanita yang hamil adalah harus secepatnya dipenuhi, maka tidak ayal lagi pada malam harinya sang suami pergi berburu kehutan dengan ditemani oleh anjing peliharaannya. Setelah sampai dihutan sang suami pun berburu. Namun alangkah kecewanya dia saat Beberapa banyak pelanduk hasil buruannya adalah pelanduk betina yang sedang hamil. Sedangkan yang diinginkannya adalah pelanduk jantan yang sedang hamil. Dia terus mencari dan mencari namun tidak kunjung ditemukan pelanduk jantan yang sedang mengandung. Diambang rasa frustasinya adalah semenjak hari dimana dia meninggalkan rumah beserta istrinya yang sedang ngidam karena hamil, dia terus mencari dan tidak pernah pulang semenjak saat itu. Dan disinilah konon katanya menurut cerita yang sudah diwariskan turun-temurun pada kalangan masyarakat Belitung, dia berubah menjadi hantu yang bagi masayarakat Belitung dikenal dengan Antu Berasuk. Tidak Cuma dia yang berubah menjadi hantu, anjing yang menyertainya juga ikut berubah menjadi hantu.
Bagi para pemburu di Pulau Belitung, cerita yang tidak masuk akal ini benar-benar telah tertanam dalam otak dan hati mereka terhadap kehati-hatian saat berburu pelanduk dihutan. Cerita yang sudah turun terumurun ini oleh kalangan orang-orang tua dari dulunya telah memberikan penanggalan-penanggalan penting saat hendak berburu pelanduk dihutan.
Misalnya tanggal 14-15 pada tiap bulannya dimana pada tanggal tersebut adalah purnama raya. Efektif berburu hewan tersebut adalah memang malam hari. Tidak Cuma tanggal tersebut yang dilarang, tanggal 16-17 dan 29-30 juga merupakan tanggal yang sanggat dianjurkan untuk tidak kehutan dan berburu pelanduk. Kenapa dengan semua tanggal tersebut? Tidak ada jawaban ilmiahnya, namun yang pasti berdasrkan cerita turun temurun, tanggal-tanggal tersebut adalah dimana kemunculan Antu Berasuk menampakkan diri. Artinya dia juga sedang berburu guna mencari pelanduk jantan yang sedang hamil seperti yang dijelaskan diatas.
Beberapa kejadian-kejadian ganjil berselimut mistis yang dialami oleh para pemburu-pemburu pelanduk saat mereka berburu. Beberapa diantaranya adalah:
  1. Yang pertama, saat pelanduk telah terkena tembakan senapan angin para pemburu, namun saat dicari tidak ada pelanduk yang tergeletak terkapar. Yang ada hanyalah ceceran darah.
  2. Hal ganjil kedua adalah, dimana saat pelanduk yang telah tertembak dan ditangkap untuk siap-siap disembelih, tiba-tiba tidak tahu entah dari mana dantangnya sesiur angin berhembus seperti desingan saat kita mengayunkan pedang membelah udara kosong yang terdengar didepan para pemburu yang sedang memegangi pelanduk yang sudah tertangkap, begitu dilihat kepala pelanduk tersebut sudah berpisah dari lehernya. Padahal pihak pemburu sama sekali tidak/ belum menyembelihnya.
  3. Hal ganjil yang ketiga adalah, kejadian ini sering dialami oleh Beberapa pemburu, namun tidak semua pemburu yang mengalaminya yaitu saat tiba masuk kehutan rimba, hutan rimba tersebut terasa teduh, hening, senyap bahkan tidak terdengar sama sekali desahan hembusan angina yang membuat dedaunan bergerak. Semuanya menjadi diam.
  4. Hal ganjil yang selanjutnya adalah apabila pemburu mengikutsertakan anjingnya untuk berburu, seolah-olah ada kemunculan Antu Berasuk, anjing yang galak atau aktif sekalipun akan berlari dan mengampiri tuannya dengan bersembunyi dibalik betis tuannya dengan posisi ekor yang menguncup dan masuk kedalam selangkangan anjing tersebut. Mungkin bagi sang anjing ini adalah sebuah ketakutan yang luar biasa terhadap sesuatu. Perlu juga diketahu bahwa anjing (dan hewan lainnya) adalah mahluk yang sangat peka sekali, terutama terhadap hal-hal yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Konon katanya Antu Berasuk tersebut sering mengawasi penduk dari ketinggian yang paling tinggi, misalnya dari puncak batang pohon yang paling tinggi. Sedangkan saat anjingnya mengeluarkan suara menyalak, seisi rimba semuanya diam, hening, senyap. Tidak ada desau angin yang berhembus, suara jangkrik atau jenis binatang malam pun tidak ada. Semuanya sepi hening senyap!
 

Hikayat Raja Berekor

Cerita ini merupakan kegiatan dari asal usul Pulau Belitung.Dimana terdapat sebuah pulau hanyut yang di akibatkan kemurkaan seorang raja di Bali akibat anaknya mengandung anak akibat hubungan nya dengan anjing kesayangan nya.
Hatta setelah tiba waktunya,sang putri yang mengandung akibat hubungan dengan anjing kesayangan nya,melahirkan seorang bayi laki-laki.Berbeda dengan bayi normal,sekujur tubuh bayi tersebut penuh di tumbuhi bulu-bulu subur serta memiliki sebuah ekor kecil,layaknya anjing.
Ringkas cerita,karena persediaan makanan kiriman dari istana sebelum di kutuk ayahnya telah menipis,sang putrid pun mulai menggantungkan hidup dari alam.Untuk membesarkan anaknya,di temani anjing kesayangan nya ia berburu biantang apa saja yang ada di hutan,menangkap ikann di sungai,serta memakan tumbuhan hutan apa saja yang bisa di makan.Oleh ibunya,setelah beranjak besar,si anak berekor di ajarkan cara berburu dan menangkap ikan di sungai.
Satu hari,si anak berekor berburu sendiri ke hutan.Dalam hutan ia bertemu sepasang burung ( di sebutkan sebagai burung kutilang,red) yang sedang memberi makan anaknya.Sedianya ia akan memanah burung-buruba tersebut.Namun mengingat burung tersebut sedang memberi makan ankanya,anak berekor pun mengurungkan niatnya.Dalam hatinya malah tibul rasa kasihan melihat keharmonisan keluarga burung tersebut.
Sepanjang hari itu,ia merasa sangat terkesan dengan keluarga burung tersebut.Sepanjang perjalanan ia terus terbayang kemesraan burung tersebut.Hingga tak seokor burung pun berhasil ia panah hari itu.
Setiba di rumah,ia pun segera menghampiri ibunya dan bertanya, “ Mak ,dimane aya aku ne ? “
Di Tanya demikian,si Ibu kaget.Lalu menjawab “ Aya kau ndak ade
Tak puas dengan jawaban ibunya,si anak pun lantas berujar,” Ndak mungkin anak manusie ndak ade aya.Sedangkan binatang sajak macam burong kutilang nok aku liat de bang utan tadik ade umak bapak e.”
Walau di desak,sang putrid tetap tak menjawab.Hingga kemudian anak nya berkata keras kepada ibunya.” Sebutla benar-benar demane aya aku ? kaluk,ikam ndak,ikam aku buno.” sergahnya dengan bengis.
Mendengar ancaman tersebut,karuan si ibu ketakutan.Sebab anaknya kini telah menjadi laki-laki dewasa bertubuh tinggi besar,berotot,pemberani,tangkas dan sangat kuat.Akhirnya,setelah berkali-kali di ancam,sang ibu pun berkata,” Aya kau to si Tumang,asuk kesayangen kite.”
Mendengar jawaban tersebut,bukan main marah nya si anak berekor.Sekejap kemudian ia telah berhasil mengkap Tumang yang berdiri tak jauh dari ibunya.Dalam hitungan detik terdengar lengkingan pendek tapi nyaring si Tumang.Sekejap kemudian,Nampak anjing itu telah terkapar di atas tanah.Kepalanya hancur,akibat bantingan keras si anak.Tumang,anjing kesayangan sang putrid,yang adalah ayah biologis si anak berekor,mati mengenaskan akabat di banting anak ny sendiri.Bangkai nya lalu di hanyutkan di sungai.
Begitulah,waktu pun terus berjalan.Si anak berekor telah tumbuh menjadi seorang pemuda normal yang gagah perkasa,namun ekornya makin panjang.Satu hari,kepada ibunya,pemuda berekor itu minta izin untuk menjelajahi daerah lain.Oleh ibunya ia di sarankan membuat perahu.
Singat cerita.setelah perahu dan berbagai perlengkapan serta perbekalan selesai di siapkan,pemuda bereokor pun berangkat.berlayar mengarungi samudra tanpa tahu arah tujuan pasti,hingga akhirnya mencapai daratan pulau Sumatra,yang masuk wilayah kekuasaan Raja Palembang.
Mengetahui daerah tempatnya mendarat termasuk wilayah kekuasaan Raja Palembang,pemuda berekor itu pun datang menghadap ke istana.Kepada Raja Palembang ia mengajukan diri untuk menjadi raja.Raja Palembang setuju dengan usulan tersebut.Namun syaratnya,ia harus memerintah di daerah asalnya,dan daerah tersebut menjadi taklukan Raja Palembang.
Syarat Raja Palembang itu di terima pemuda berekor,hinga jadilah ia sebagai seorang Raja di daerah asalnya yang kemudian terkenal dengan Raja Berekor.Namun,sebelum kembali ke daerah asalnya,ia di bekali perlengkapan secukupnya dan rakyat berasal dari daerah taklukan Raja Palembang Konon jumlahnya setara dengan delapan gantang butir padi.
Di kisahkan setiba di Belitung,Raja Berekor mendirikan istana di sekitar Aik Bebulak,Kelekak Usang kea rah perawas,sejajar dengan aliran sungai Cerucuk yang melintasi Kampung Perawas sekarang ini.Singgasananya terbuat dari sebuah tempayan besar.Dii atas tempayan besar itulah di letakan satu keeping papan dari kayu ulin yang di beri lobang,sebagai tempatnya memasukan ekor ketika duduok di sanggasana.Alhasil,kemanapun Raja Berekor ini pergi tempat duduk itu selalu di bawa.
Dalam menjalankan pemerintahan,Raja Berekor di dampingi Sembilan pembantu,terdiri atas : perdana mentri,hulubalang dan pesuruh yang salah satunya bernama sikum.Selain itu di tangkap pula sejumlah perempuan untuk di jadikan juru masak dan dayang-dayang istana.Dengan dukungan sejumlah pembantunya,pemerintahan Raja Berekor berjalan baik dan sesuai dengan kehendak raja.Pendek kata,setiap kehendak raja selalu di turuti para pembantu nya,yang sebenarnya takut dengan kekekaran dan kebengisan nya.
Satu hari seorang juru masak istana membuat kelalaian .Saat menyiapkan makanan siang buat sang raja ,salah satu jarinya tersayat pisau, hingga darahnya menetes dalam makanan yang sedang disiapkan .Ketika makanan tersebut dihidangkan kepada sang raja bukan mainnya takut juru masak .
Tapi ,apa yang terjadi kemudian ?Setelah dihidangkan sang raja memakannya dengan lahap .Sekonyong-konyong ,Raja berekor tertawa terbahak-bahak ,sambil berteriak keras kepada Perdana Mentrinya .
“Perdana Mentri panggil juru masak !”Perdana Mentri pun langsung memanggil juru masak dan kembali menghadap sang raja bersama juru masak tak lama kemudian .
“Ampun Baginda hamba datang ngadap ,”ujar Perdana mentri di ikuti juru masak .
‘Juru masak !Nyaman benar kau masak sari ne ‘,rasenye lebe nyaman dari masakan nok lauda-uda .Bahan ape nok kau masokkan de dalamnye ?tanyak raja berekor .
Ditanya demikian ,juru masak gemetaran .mukanya pucat pasi .Keringat dingin mengucur deras didahinya .
Ampun, tuan ku ,hamba masak macam biase sajak,ndak ade nok demasokan bang masakan itu .semuenye bumbu masakan kan bahan nok ade dedapor kitelah.,”jawab juru masak itu gemetaran .,”Akh ,ndak mungkin !” sergah sang raja .”cuba terus terang ,pasti ade nik lebeh dari biase e,” sergah sang raja lagi.
Takut dengan raja,juru masak itu pun dengan pasrah dan terbata-bata berujar,”seingat hamba,waktu mengiris sayor,ujung tangan hamba teriris pisuk lalu bannyak keluar dara.Dara itu tecampor kan bumbu tadik” jawab juru masak sambil gemetaran.
Mendengar jawaban si juru masak,sang raja tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil.Dalam hatinya terbayang mungkin darah manusia di campur daging manusia lebih enak rasanya.Hingga akhirnya muncul keinginan untuk memakan daging manusia.Sesaat kemudian ia pun berkata kepada perdana mentri
Perdana Mentri,ngape kite ndak nyubak makan daging manusie sajak ?” Tanya raja lagi.
Hamba,…ndak sampai ati tuanku,” jawab Perdana Mentri ketakutan.
Di jawab demikian,meledaklah kemarahan sang raja.Sambil menghunus pedang ia berteriak, “ turutek perinta aku ! kaluk ndak kau nok aku buno
Akhirnya dengan sangat terpaksa Perdana Mentri menuruti kehendak raja itu.Membunuh manusia untuk di jadikan santapan raja.Korban pertamanya adalah juru masak.Rupanya dugaan raja bengis itu benar.Ketika menyantap daging sang juru masak ia Nampak merasakan kenikmatan tiada tara.
Sejak saat itu,setiap hari,pasti ada rakyatnya yang di korbankan untuk di jadikan santapan raja pemakan manusia itu.Semua jenis dan tingkatan umur di coba.Anak-anak,orang dewasa,orang tua,laki-laki,maupun perempuan.Malahan terkadang dalam sehari lebih dari satu orang yang menjadi korban.
Akibatnya,rakyat semakin takut.Kerajaan pun semakin sepi.Semua rakyat berdiam diri di rumah,menghindar agar tidak menjadi santapan raja.Akhirnya,rakyat yang semula begitu banyak hari demi hari menjadi kian sedikit.Sementara para pembantu istana tak berdaya mengatasi tabiat buruk raja yang buas dan kejam itu.
Satu saat,tanpa di ketahui para hulu baling istana rakyat melarikan diri ke daerah Belantu,Sijuk,Buding dan daerah lainya.Sedang yang belum melarikan diri dan jumlahnya sangat sedikit,kemudian mendapat giliran menjadi santtapan raja.Hingga akhirnya yang tertinggal hanya Sembilan orang pembantu raja saja.Mengetahui rakyat nya sudah tak ada lagi di kerajaan,Raja Berekor pun menjadi gelisah dan menanyakannya kepada Sembilan pembantu nya.Oleh mereka di jawab bahwa,rakyat telahh habis dijadikan santapan raja.
Karena haus dengan daran dan daging manusia,raja pun bermaksud memakan ke Sembilan pembantunya yang masih tersisa di istana.Namun bagaimana caranya ? Segera la raja bengis ini memanggil ke Sembilan pembantunya dan mengadakan seyembara yang terdiri dari dua buah teka teki berbunyi : “ DELIPAT KEMBANG DELIKOR,DELIMA KEMBANG DELIKAM
Barang siape ndak dapat ngenjawabnye,kan aku buno.Untuk itu mikak kuberik waktu duak ari untuk ngenjawabnye,” ungkap raja.
Mendapat seyembara tersebut ke Sembilan pembantu raja itu segera bermusyawarah.Salah satunya adalah pak Sikum.Orang tua ini sudah lama mengabdi pada kerajaan.Hingga ia tahu persis keadaan kerajaan.Setelah bermusyawarah,ke Sembilan orang ini pun akhirnya berhasil memecahkan teka teki tersebut.” DELIPAT KEMBANG DELIKOR “ berarti berarti empat orang dimakan waktu lohor ( siang ) dan DELIMA KEMBANG DELIKAM berarti lima orang di makan waktu malam.
Setelah berhasil memecahkan teka-teki tersebut tiba-tiba pak Sikum berteriak,” Kite harus ngadilek raje lalim itu
Tapi,lanjut dia,”kite ndak mungkin ngembunonye secare terang-terangen.Sebab die sakti,die juak kebal kan senjate tajam.”
Menghadapi kenyataan itu,semua yang hadir terdiam.Namun,tiba-tiba Pak Sikum teringat sesuatu.” De istana ne tersimpan duak buah alu sakti terbuat dari kayu simpor laki.Alu sakti itu la nok dapat ngembuno raje,” ujarnya setengah berteriak.
Untuk melaksanakan niatnya,Sembilan pembantu raja itu pun mencuri dua buah alu sakti tersebut.Lalu,mereka menyususn rencana pembunuhan terhadap raja bengis itu.Disepakati waktunya saat mereka menghadap raja ketika batas waktu yang di berikan habis.
Batas waktu yang di terapkan raja pun tiba.Ke Sembilan pembantu raja datang menghadap.Namun,dari singgasananya,raja merasa kejanggalan pada para pembantunya.Dua di antara mereka tidak membawa tombak seperti biasa,api membawa alu.Hingga Raja Berekor menjadi agak sedikit curiga.
Masih curiga,raja pun menanyakan apakah mereka sudah berhasil menjawab teka-teki yang di ajukan nya dua hari lalu.
Pertanyaan raja itu,secara berpantun di jawab Perdana Mentri,dengan membalikan teka-teki yang di ajukan :
DELIPAT KEMBANG DELIKOR
DELIPAT KEMBANG DELIKAM
URANG LIMAK NGIBIT IKOR
URANG EMPAT SERETE NIKAM
Belum sempat,raja bereaksi pak Sikum,langsung membalas pantun Perdana Mentri :
SAK DUA DAUN SIMPOR
KETIGE DAUN GENALU
URANG LIMAK NGIBIT IKOR
URANG DUA NGEMPOK KEN ALU
Mendengar jawaban tersebut,sadarlah Raja Berekir bahwa pantun itu adalah siasat Sembilan para pembantunya untuk membunuhnya.Seketika murkalah Raja Berekor.Ia bangkit dari singgasananya,hingga tanpa di sadari ekornya turut keluar dari lobang tempayan.
Begitu melihat ekor sang raja keluar,serentak para pembantu raja itu menyerang.Lima orang memegangi ekor,empat lainya masing-masing dua orang memukul kepala raja bengis dan kejam itu dengan alu sakti dan menusuknya dengan keris.Akibatnya seketika tubuh raja yang besar dan kekar itu pun tumbang bersimbah darah.Mayatnya,oleh Sembilan pembantunya,di hanyutkan ke sungai.Dengan begitu tamatlah riwayat Raja Berekor,pemangsa manusia yang begitu bengis dan kejam itu.
***
Kayu simpor laki ini meurut kepercayaan orang Belitung sebagai penagkal binaang buas dan berbisa,seperti harimau dan ular.Menurut cerita kesaktian simpor laki ini di dukung oleh pepatah lama di Belitung yang berbunyi :
ALU SEGIOK GIONG
SEGALE-GALE UBI
SEKUCAK-SEKUCONG
TENTONG KAYU BINGKOK,BINGKOK DEMAKAN API
ALU UKAN SEMBARANG ALU
ALU TEBUAT DARI SIMPOR LAKI
SIFAT NOK BEIKOR
AMUN TEPELASA KAN SIMPOR LAKI
TENTU MATI
 

Kik Cuan Melawan Limpai

Pada zaman dahulu kala ,tak beberapa jauh dari Kampung Simpang Tiga,termasuk wilayah Kecamatan Gantung ,hidup seorang petani bersama istri dan anak gadisnya.Oleh penduduk setempat ia dipanggil Kik Cuan .Sebagai seorang petani Kik Cuan senantiasa berada disekitar lingkungan ladangnya ,yang umumnya berada ditengah hutan .Hingga ia menjadi sangat akrab kehidupan hutan dan segalah macam isinya .
Satu-satunya anak perempuan Kik Cuan bernama jerimai .Sebagai seorang perempuan,tentunya ,ia harus berkeluarga . Dan,ketika tiba saatnya,Jerimai pun dinikahkan Kik Cuan dengan seorang pemuda dari kamoung setempat .Pernikahan ini diramaikan dengan berbagai acara ,termasuk kedurian bagi orang kampung.
Beberapa waktu setelah perhelatan pernikahan Jerimai,kampung dimana Kik Cuan tinggal sering ada kejadian seorang anak yang bermain dipinggir hutan ,pemandian(bahasa setempat disebut aik arongan,red),bahkan diladang .Selain ditempat-tempat tersebut ,tidak kerap pula ada kejadian terbongkar nya kuburan orang yang baru saja meninggal.Baru saja jenazah orang meninggal dimakamkan ,keesokan harinya kuburan tersebut terbongkar secara teratur ,seperti diseruduk semacam moncong binatang yang tersisa dari jenazah yang terbongkar itu ,biasanya ,hanyalah jari kuku dan kain kafan .
Kejadian-kejadian ini menimbulkan suasana tenang dikampung Kik Cuan.Siang malam penduduk kampung selalu berjaga-jaga .Penduduk laki –laki selain menjaga diladang pada siang hari berjaga-jaga dikampung pada malam hari .Sementara kaum perempuan,selain menyiapkan makan bagi keluarga ,tak boleh lengah mengawasi anak-anak mereka ketika bermain dipinggir hutan atau ditengah ladang.
Dalam kondisi demikian ,suatu hari ,keluarga Kik Cuan mendapat undagan kedurian pernikahan anak temannya yang tinggal diwilayah Simpang Tige,sekarang rencananya ,Kik Cuan akan pergi keundangan tersebut karena temannya itu dulu banyak membantunya saat pernikahan jerimai .Lagi pula, ia tak mau menyinggung perasaan keluarga yang sudah susah-susah mengundangnya .
Cuma rawanya kondisi kampung saat itu,selalu menjadi pemikirannya untuk memenuhi undagan temannya .Sebab ia sangat tahu perjalanan menuju Kampung Simpang Tige yang akan ditempuhnya penuh resiko .Apalagi ia harus membawa seluruh anggota keluarganya ,trmasuk jerimai yang masih pengantin baru.
Mengantisipasi hal-hal tidak di inginkan keluarga Ki’ Cuan akan berangkat berombangan ,bersama-sama orang kampung.Sementara karena masih ada urusan yang harus di selesaikan sebelum berangkat, Ki’ Cuan menyusul kemudian.
Rupanya,Jerimai yang harus nya berangkat bersama rombongan orang kampung ,terlambat.Hingga ia harus berjalan sendirian, terpisah agak jauh dari rombongan didepannya .Tetapi ditengah perjalanan ,tak ada yang tahu apa yang menimpah jerimai ,sang penganten baru .
Sementara itu, dirumah ,setelah menyelesaikan tugasnya Kik Cuan bergegas menujuh rombongan keluarganya yang telah lebih duluh berangkat. Ditengah perjalanan ,Kik Cuan terkejut .Ia menemukan selembar selendang berlumuran darah dan sisa potongan tangan didekatnya .Apa yang terjadi ?Setelah mengamat-amati selendang berlumuran darah dan sisa potongan tangan tadi,yakinlah Kik Cuan telah terjadi sesuatu pada Jerimai .
Sebab selendang yang ias temukan dikenali sebagai selendang milik Jerimai yang digunakan ketika berangkat ke undangan tersebut.. Lalu dikuku jari sisa potongan tangan pun ia yakini tangan Jerimai ,sebab dikukunya terlihat pacar (kutek tradisional yang biasa di gunakan untuk pengantin,red) .
Menghadapi kenyataan itu dengan perasaan marah Kik Cuan mempercepat langkanya menujuh tempat kedurian,yakinlah ia bahwa jerimai telah mejadi korban mahluk yang meenggegarkan kampungnya akhir-akhir ini .Sebab jerimai tak ada ditempat kedurian tersebut.Setelah menceritakan temuannya itu kepada istri dan menantunya ,Ketiga orang itu pun kembali kekampungnya .
Di antara rumah,istri dan menantu Ki’ Cuan menangis sejadi-jadi nya.Malam hari nya Ki’ Cuan bermimpi yang membinasakan anak nya adalah makhluk buas.,Se ekor limpai. ( Oleh penduduk Belitung makhluk ini di gambarkan seperti babi,namun berukuran sangat besar,dan di yakini ini adalah makhluk jadi-jadian,red.).Keesoakan harinya, Ki’ Cuan mendatangi lokasi kejadian yang menimpa anaknya dan meminta pertanggungjawaban siapa yang telah membinasakan Jerimai.Sekejap kemudian,keluarlah limpai.Kepada limpai, Ki’ Cuan mengatakan akan menuntut balas atas kematian anaknya.Di tantang demikian limpai setuju dan bersedia duel dengan kehendak Ki’ Cuan.
Tujuh hari berikutnya,di daerah sekitar Genting Apit,terjadilah duel hidup mati antara Ki’ Cuan melawan Limpai.Mencapai tengah hari Ki’ Cuan telah mengeluarkan segenap kemampuan nya.Tapi,Limpai belum juga dapat di kalahkan.Walau semua senjata seperti Tombak,Keris,dan Parang sudah di gunakan,tapi tetap saja,Limpai tak bisa di kalahkan.
Lalu,keduanya sepakat beristirahat.Sambil bersitirahat Ki’ Cuan makan sirih dan campuran nya dengan urak ( lesung kecil sepanjang 15 cm dan berdiameter sekitar 5 cm,dari kayu atau bamboo,berfungsi sebagai wadah pelumat capuran sirih.Untuk melumatkan campuran sirih di dalamnya di gunakan alu kecil dari besi bergagang kayu biasa disebut mata urak,red.).Sebagian dari sirih yang telah di lumatkan,dan sebelumnya telah di mantrai,di berikan nya kepada Limpai.
Setelah itu perkelahian pun di lanjutkan.Karena tidak ada senjata lagi yang bisa di gunakan, Ki’ Cuan menjadikan mate urak sebagai senjata.Pertempuran berjalan terus.Namun keduanya masih terus bisa bertahan.Selama itu Ki’ Cuan terus berusaha mengambil kesempatan untuk berada di bawah perut Limpai.Pada saat itulah Ki’ Cuan menusukan matanya urak nya ke perut Limpai.Sekejap kemudian makhluk yang telah menggegerkan kampung Ki’ Cuan ini pun roboh.
Sebelum Limpai menghembuskan nafas terakhir,Limpai bersupah : “ Mulai saat ini setiap keturunun Ki’ Cuan tetap akan jadi muso bebuyutan ku.
Karena sumpah itulah,hingga kini,masih banyak yang percaya,di tempat Ki’ Cuan bertempur melaawan Limpai – daerah sekitar Genting Apit,jika menyebutkan diri sebagai keturunan Ki’ Cuan,Limpai akan datang ke tempat tersebut.Sebab,itu sama saja artinya,mengundang limpai untuk berkelahi (Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib)
 

Hikayat Tuk Kundo

Sekitar kilometer 30 dari Tanjungpandan menuju Kelapa Kampit, terdapat terdapat sebuah kampung bernama Parit Gunong. Berjarak 300 meter dibelakang kampung yang terletak di kaki Gunung Tajam ini, terdapat sebuah kuburan Islam, dimana salah satunya adalah Makam Datu’ Kundo. Beliau adalah salah satu dari murid Syekh Said Husein Abdullah, penyebar Agama Islam di Belitung.
Diceritakan ketika Tu’ Kundo datang ke daerah ini, kehidupan penduduknya masih diliputi suasana animisme. Tidak ada suasana Islam sama sekali. Sehari-hari, selain dari hasil buruan pelanduk, rusa dan burung, penduduk masih memakan lutong, kera serta Gadog (babi hutan, red.).
Dalam suasana dan situasi seperi itulah Tu’ kundo dengan penuh semangat mcnyebarkan Agama Islam. Dalam riwayatnya tak diketahui asal-usulnya, apakah pendatang dari luar pulau atau penduduk setempat yang berguru pada Syekh Said Husein Abdullah. Namun, umum mengakui Tu‘ kundo sebagai penyebar Islam paling berhasil di antara tujuh murid Syekh Said Husein Abdullah.
Di kampung Parit Gunong ini, Tu’ Kundo menetap di pondok Mak Gadog, seorang janda yang memiliki gadis yang menginjak dewasa. Suatu hari datanglah lamaran untuk putri Mak Gadog. Karena tak ada keluarga yang ditunggu serta tak ada yang diajak bermusyawarah lagi, Mak Gadog pun menyetujui lamaran tersebut.
Setelah lamaran diterirna, dipersiapkanlah segala sesuatu yang berhubungan dengan acara kenduri yang akan dilaksanakan sesudah panen Mak Gadog tahun ini.jadi untuk persiapan, beras sudah tak ada persoalan lagi, tinggal lagi lauk-pauk kundangan. Maka Mak Gadogpun berusaha untuk mencari ikan d sungai dengan memasang tekalak. Perangkap ikan ini terbuat dan bambu yang dianyam berhentuk seperti terornpet dengan bagian depan agak kecil dan membesar pada bagian badan lalu mengecil lagi pada bagian belakang. Pemasangannya, bagian depan diletakkan menghadap arus air, hingga ikan yang yang masuk dan terkurung di bagian tengah namun tak bisa keluar lewat belakang karena ukurannya kecil.
Namun, ketika memasang tekalak, keberuntungan nampak masih belum berpihak pada Mak Gadog. Ditemani Tu’ Kundo, setiap malam mau mengambil ikan selalu saja tekalak-nya kosong melompong.
Pada suatu malam, tu’ Kundo datang seorang diri ke tempat Mak Gadog memasang tekalak. Tu’ Kundo curiga, kalau-kalau ikan dalam tekalak telah terlebih dulu diambil orang lain. kira-kira menjelang subuh tiba-tiba Tu’ Kundo melihat kelabat sebuah bayangan mendekati tekalak Mak gadog. Di tangan bayangan itu nampak benda berkilat memancarkan sinar warna keemasan. Melihat bayangaan itu, Tu’ Kundo segera bersembunyi dibalik sebuah pohon besar tak jauh dari tekalak Mak Gadog, sambil memperhatikan sosok dibalik bayangan tersebut.
Setelah diamati dengan seksama, Tu’ Kundo bisa melihat jelas bayangan tersebut. Yang ternyata seorang tua berbaju putih memegang sebuah tongkat berwarna keemasan. Yakin dengan apa yang diamatinya, segera Tu’ Kundo menyerang, karena mengira pastilah orang tua tersebut yang selama ini mencuri ikan-ikan dalam tekalak Mak Gadog. Rupanya kakek tua itu bukan sembarang orang. Kendati sempat melakukan perlawanan ia akhirnya bisa dikalahkan Tu’ Kundo. Namun belum sempat Tu’ Kundo membunuhnya, tiba-tiba kakek tua itu berkata, “Nak jangan kite lanjutkan perkelahian ini. Jangan ade di antare kite nok harus mati, sebab kan ngerugikan kite sendiri. Sekarang, gini saja’ Sebutkan ape saja’ nok kau endake, semue pasti kan kukabulkan.”
Tu’ Kundo heran dengan perkataan orang tua ini. Sebab terdengar seperti bukan orang sembarangan. Kanena itu diputuskanlah untuk tidak membunuhnya. Kepada orang tua itu Tu’ Kundo hanya minta nani mulut. “Kek, beri’ aku nani mulut,” ujar Tu’ Kundo.
Mendengar permintaan Tu’ Kundo, orang tua itu kembali bertanya, “untuk ape kau minta nani mulut, nak?”
Untuk ngembantu’ ngalakan urang-urang nok nyalae’ aturan dan ndak nurut kan aturan agama kamek,” jawab Tu’ Kundo.
Mendengar jawab Tu’ Kundo, orang tua itupun membuka mulut Tu’ Kundo dan meludahinya sebanyak lima kali. Setelah itu, orang tua itu pun menghilang seiring datangnya pagi.
Ketika hari sudah semakin terang, Tu’ Kundo segera mengambil ikan dari tekalak Mak gadog. hari itu karena datang lebih dulu, Tu’ Kundo berhasil membawa ikan banyak sekali. Dalam perjalanan pulang Tu’ Kundo mencoba apa yang telah didapatnya dari orang tua tadi. Diarahkan pandangannya pada burung yang sedang berkicau, sambil berkata, “Sine’ kau burong” ajaib, semua burung yang dipanggil Tu’ Kundo terbang ke arahnya dan hinggap di pundak, hingga membuatnya kewalahan. Rupanya, kata Tu’ Kundo dalam hati, betul apa yang dikatakan orang tentang kehebatan seseorang yang memiliki nani mulut. Kalau begitu, fikir Tu’ Kundo, lebih baik ku musnahkan saja kera dan lutong di pohon-pohon yang ada di hutan ini. Sebab, masih banyak penduduk yang telah memeluk agama Islam saat itu yang memakan kera dan lutong.
Karena itu setiap melalui pohon yang dihuni kera dan lutong di sepanjang perjalanannya pulang Tu’ Kundo selalu berteriak “Matilah mika’ semue !” Usai berkata demikian serempak kera dan lutong yang ada di pohon berjatuhan ke tanah. Mati karena tuah nani milut Tu’ Kundo.
Setibanya di rumah, Tu’ Kundo menyerahkan semua ikan basil tangkapannya kepada Mak Gadog. Namun, ia tidak menceritakan pertemuannya dengan orang tua di dekat tekalak Mak Gadog.
Sebenarnya dengan Mak Gadog ini, Tu’ Kundo merasa berhutang budi, karena telah menyediakannya tempat tinggal. Tapi menghadapi Mak Gadog ini sangat hati—hati dan tidak mau
buru-buru meng-Islamkan-nya. Akhirnya, dengan kesabaran dan caranya sedikit demi sedikit Tu’ Kundo bisa mengajak Mak Gadog ke jalan Islam. Bahkan, ketika kendurian anaknya, Tu’ Kundo bisa meminta Mak Gadog untuk tidak menyediakan makanan yang diharamkan, seperti gadog, kera dan lutong.
Jadilah akhirnya Tu’ Kundo sebagai juru bicara Mak Gadog setiap ada tamu yang menanyakan tetang makanan kepada Mak Gadog “Mak Gadog ndak ade nyediakan nok ini agi’. Mun gi’ tadi’ se mimang banyak panggang gadog, kera kan lutong,” kata Tu’ Kundo kepada setiap tamu Mak Gadog.
Hingga akhirnya satu di antara undangan Mak Gadog berkomentar, “Mak Gadog ne mimang la beruba andang-andangan ini. Biasenye belau ne ndak keabisan nok itu te’. Tapi kitu te nda’ bagi’ barang sekerubitan.”
Mendengar komentar tamunya, Mak Gadog pun menyahut, “Sebenare aku tu ndak ade agik ko kan nok kitu. La kukaperkan semuenye.”
Lalu Tu’ Kundo pun menyambung, ” Mun Mak la ngaperkannye, make gadog, kera, lutong tadi’ jadi kaper semuenye.”
Rupanya kejadian pada selamatan anak Mak Gadog secara perlahan telah membuka hati penduduk Parit Gunong untuk mengikuti ajaran Islam.
Sementara, oleh Tu’ Kundo, cara-cara menyebarkan islam seperti di rumah Mak Gadog dikembangkan sebagai model dalam penyebaran agama Islam di daerah-daerah lain di kemudian hari. Setiap turun ke keleka’, dusun, kampung, ume, gunung dan lembahnye sekitar tempat tinggalnya dan wilayah sekitar tak pernah ada pemaksaan oleh Tu’ Kundo kepada penduduk, tapi dengan memanfaatkan situasi yang sedang terjadi di masyarakat. Hingga dalam syiarnya tidak pernah terjadi konflik masyarakat yang di—Islam—kaunya. Malah, dengan caranya itu, Tu’ Kundo jadi sangat populer di masyarakat.
Singkat cerita, setelah Usianya bertambah tua, Tu’ Kundo menghabiskan sisa hidupnya dengan mcnjadi imam jamaah mesjid Mesjid Air Batu Buding. Di situlah beliau menjadi guru mengaji sekaligus tempat bertanya masyarakat tentang segala yang berkaitan dengan Islam. Malah, menurut sebuah sumber, ada sebuah kitab suci Al Quran yang hurufnya sebesar jari kelingking bayi. Kitab suci tersebut dikenal dengan Al Quran Tu’ Kundo.
Di akhir hayatnya, Tu’ Kundo oleh masyarakat dimakamkan di sebuah pekuburan di Kampung Parit Gunong. Tak ada yang istimewa dengan makam beliau. Bentuknya sama seperti makam yang lain. Tapi oleh kuncen makam Tu’ Kundo, dipercava bahwa beliaulah yang hingga saat ini menjadi semacam penjaga penduduk Parit Gunong, terutama hal-hal yang menyimpang dari ajaran Islam.

Asal Mula Keramat Gunung Tajam

Pada masa pemerintahan Kiai Agus Bustam, bergelar Depati Cakraningrat IV (1700-1740 M) di Kerajaan Balok, Belitung, seorang mubalig Islam bernama Sayid Hasan bin Abdullah atau Syekh Abubakar Abdullah datang ke Belitung melalui Sungai Buding, sekitar 45 kilometer (km) dari Tanjung Pandan. Muhaligh asal Aceh ini bermaksud datang ke Belitung untuk menyebarkan agama Islam dan bermukim di Desa Buding.
Dari Desa Buding ini, beliau menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Pulau Belitung. Dalam penyebaran dan melakukan syiar Islam, Ia dibantu Tu’ Kundo, seorang muridnya yang terkenal. Tu’ Kundo inilah yang sering menobatkan orang yang sering dianggap kafir untuk masuk islam. Tugas cukup berat bagi seorang mubaligh. Karena itu tidak mengherankan kalau keduanya selalu mendapatkan tantangan. Namun, dengan hati tabah kedua mubaligh ini terus menjalankan kegiatan syiarnya. Singkat cerita, tanpa terasa sudah banvak daerah yang penduduknya telah masuk Islam. Setiap daerah yang penduduk nya telah masuk Islam, didirikan sebuah mesjid untuk tempat ibadah. Mesjid pertama yang dibangun Syekh Abuhakar Abdullah berada di Kampung Badau, sekitar 22 km dari Tanjungpandan.
Kuatnya syiar yang dilakukan Syekh Abubakar Abdullah hingga banyak penduduk masuk agama Islam, tak pelak membuat Kiai Agus Bustam yang pada saat itu tengah memerintah di Kerajaan Balok merasa takut kehilangan kepercayaan dari rakyatnya. Hingga ia melakukan berbagai cara agar kepercayaan rakyat kepadanya tak berkurang. Bahkan, ia tak segan-segan untuk bertempur.
Suatu ketika, Kiai Agus Bustam mendatangi Syekh Abubakar Abdullah untuk membunuhnya. Syekh Abdullah tak gentar. Sebagai seorang mubaligh beliau tak takut meninggal. Upaya Kiai Bustam untuk membunuhnya ia hadapi dengan gagah berani, hingga terjadilah perang tanding antara keduanya. Namun, setelah bertempur cukup lama dan berbagai jurus sudah dikeluarkan Kiai Agus Bustam, Syekh Abdullah tak juga terbunuh. Hingga akhirnya, Syekh tersebut berujar kepada Kiai Agus Bustam, “Raje kalu’ mimang benar-benar nak muno aku, ndak usa gini carenye. Tapi cukup pakai jarum emas nok ade bang keminangan aku terus cucokkan ke ujong jempol kaki kanan aku.”
Rupanya niat Kiai Agus Bustam untuk membunuh Syekh Abdullah memang telah bulat. Setelah tahu kelemahan Syekh Abdullah, tanpa membuang waktu ia mengambil jarum emas di keminangan Syekh Abdullah dan menusukkannya ke jari yang disebutkan. Seketika itu juga syekh dari Aceh itu roboh. Wafat meninggalkan dunia yang fana berbalut amal kebaikan serta nama besar sebagai penyebar agama Islam pertama di Belitung.
Sebenarnya, kepada Tu’ Kundo, Syekh Abdullah pernah berpesan, “Kalu’ aku mati kelak, kuborkan aku di antare langit dan bumi“. Namun, karena saat meningal Tu’ Kundo sedang di luar Belitung, oleh pengikut yang lain jenazah Syekh Abdullah dimakamkan pada sebidang tanah di sekitar hulu Sungai Air Batu, Buding.
Dua—tiga bulan setelah kematian Syekh Abdulhah, Tu’ Kundo kembali ke Belitung. Diceritakanlah oleh para pengikutnya kepada Tu’ Kundo tentang apa yang terjadi pada Syekh Abubakar Abdullah. Mendengar cerita itu, Tu’ Kundo terdiam. Tak tahu apa yang harus diperbuat. Yang ia ingat hanya pesan Syekh Abdullah kepadanya tempo hari.
Ingat pesan itu, ia pun berpikir keras menafsirkannya. Setelah difikir-fikir mengertilah Tu’ Kundo, yang dimaksud dikubur antara langit dan bumi adalah di atas puncak tertinggi gunung yang ada di Belitung.
Nah tak jauh dan makam Syekh Abdullah terdapat Gunung Tajam, gunung tertinggi di Belitung dengan dua puncak, kerap disebut Gunung Tajam laki dan Gunung Tajam bini. Diantara dua puncak ini, yang tertinggi adalah Gunung Tajam bini. Karena itulah, kemudian Tu’ Kundo memutuskan untuk memindahkan jasad Syekh Abdullah dari hulu Sungai Air Batu Buding ke puncak Gunung Tajam bini, yang berjarak sekitar delelapan kilometer.
Singkat cerita bersama pengikutnya yang lain, Tu’ Kando pun membongkar makam Syekh Abdullah. Satu keajaiban terjadi selama pembongkaran makam itu dilakukan. Jasad Syekh Abdullah yang sudah dimakamkan selama kurang lebih tiga bulan tak sedikit pun ada perubahan. Kalau pun ada hanya sebuah koreng kecil pada ujung jempol kaki kanannya, bekas tusukan jarum mas. Juga tak ada bau busuk yang menebar. Malah yang terjadi sebaliknya. Bau wangi merebak kemana-mana. Sebelum dibawa ke puncak Gunung Tajam laki, jasad Syekh Abdullah dibungkus dengan kulit kayu kepang.
Namun, masalah baru kembali dihadapi Tu’ Kundo. mengingat jalan dari hulu sungai Air Batu Buding menuju puncak Gunung Tajam laki yang berjarak sekitar delapan kilometer, hanya jalan setapak, Tu’ Kundo dan pengikut Syekh Abdullah kesulitan untuk menemukan jalan menuju puncak dan menentukan tempat yang cocok untuk untuk pemakaman. Untuk itulah kemudian mereka menetapkan kucing kesayangan Syekh Abdullah sebagai penuntun menuju puncak.
Singkat cerita, dengan dibungkus kulit kayu kepang, Tu’ Kundo beserta pengikut lainnya dan masyarakat mengiringi kucing kesayangan Syekh Abdullah menuju puncak Gunung Tajam. Satu keajaiban kembali terjadi. Sepanjang perjalanan menuju puncak tak hentinya semerbak bau kembang setaman.
Keajaiban lain juga terjadi, sesampainya di satu tanah datar di puncak Gunung Tajam laki, kucing kesayangan Syekh Abdullah mati. Kematian kucing tersebut dianggap Tu’ Kundo sebagai syarat bahwa di tempat itulah jasad Syekh Abdullah harus di makamkan. Sesuai dengan amanah, di tempat itulah kemudian jasad Syekh Abdullah dimakamkan.
Saat menggali kuburan untuk Syekh Abdullah kembali keajaiban terjadi. Selama tujuh hari tujuh malam penggalian, silih berganti menebar bau wangi dan busuk. Hal itu membuat masyarkat yang ikut ke pemakaman tersebut pulang, hingga akhirnnya menyisakan tujuh murid Syekh Abdullah. Akhirnya, setelah penggalian kuburan selesai jasad Syekh dimakamkan, sementara di ujung kakinya dimakamkan kucing kesayangan beliau.
Karena dikuburkan di puncak Gunung Tajam, Sayid Hasan bin Abdullah atau Syekh Abubakar Abdullah kemudian hari dikenal sebagai Keramat Gunung Tajam atau Datuk Gunung Tajam. Kini, makam Keramat Gunung Tajam itu menjadi tempat ziarah, yang selalu ramai dikunjungi orang terutama umat Islam
 
 

Selasa, 14 Februari 2012

0 Tugas TIK (2004)

Pak Ini Tugas Saya..
Tugas Yang Ke 2..
Yang Lainnya Belum

0 Tugas TIK (Joss COM)

Pak Ini Tugas Saya 
Kelvin 9D

Jumat, 27 Januari 2012

1 kebahagian berasal dari hati

Kebahagiaan Iman
Seorang suami sedang bertengkar dengan isterinya, lalu ia berkata :
“Sesungguhnya aku akan mencelakakanmu!”
Sang isteri berkata dengan tenang : “Engkau tidak akan mampu.”
Suaminya berkata : “Mengapa tidak?”
Isteri menjawap : “Jika kebahagiaan berada dalam harta, maka engkau dapat mencegahnya dariku. Jika kebahahagiaan berada dalam perhiasan, maka engkau dapat menahannya agar tidak sampai kepadaku. Kebahagiaan itu bukan pada apapun yang engkau miliki atau apa yang dimiliki manusia yang lainnya. Sesungguhnya aku menemukan kebahagiaanku dalam imanku, imanku ada dalam hatiku dan hatiku tidak dapat dkuasai oleh seorang pun, melainkan oleh Tuhanku.”

kesedihan ku nelangsa dalam dinginnya sang malam…kebahagiaanku melalang dalam cepatnya waktu sang Tuhan….tapi parasmu masih tergantung indah dalam ingatan syahdu sang hati
Coretan Kertas (Semoga)
Senang? Sedih?
Apa jadinya kalau rasa itu menyatu…
Senang ketika melihat kebahagian, sedih ketika melihat kebahagian.
Lengkap? Memang, mungkin dengan sedikit bumbu kebohongan bisa dimaklumi.
Andai aku bisa membatalkan, memundurkan, atau memajukan waktu, mungkin aku bisa menentukan semua seperti mencoret kertas.
Ini hidup dan didalamnya ada banyak pilihan, tolong jangan disesali.
Semoga ini bukanlah sebuah pengulangan, tapi merupakan sebuah pendewasaan… Semoga….